• +62-8123070905
  • bagus.suminar@gmail.com

Daily Archive July 30, 2019

Tentang Qurban (2)

๐Ÿ๐Ÿ‚๐Ÿ๐Ÿ‚๐Ÿ๐Ÿ‚๐Ÿ๐Ÿ‚๐Ÿ๐Ÿ‚๐Ÿ
ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู
Sejenak Pagi:
_*Tentang Qurban (2)*_

Syarat seseorang berqurban ada 3, yaitu:

1โƒฃ *Yang disembelih berupa hewan qurban (onta, sapi, kambing dan sejenisnya).*
Sahabat Abu Hurairah RA memperbolehkan juga qurban dengan kuda. Bahkan Ibnu Abbas RA berpendapat bahwa qurban dengan ayam atau bebek diperbolehkan. Ini adalah solusi bagi mereka yang tak mampu. Tapi bila sudah ada kemampuan maka dianjurkan qurban dengan pendapat pertama.

2โƒฃ *Dilaksanakan pada hari โ€˜Ied / Tasyrik (tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah).*

Jika bukan di waktu tersebut maka namanya bukan qurban

3โƒฃ *Niatnya taqarruban ilallooh* (mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala).
Sangat dianjurkan agar orang yang berqurban janganlah niat melainkan hanya karena Alloh Ta’ala. Jangan ujub, riya dan sombong. Cukuplah kita dan Alloh Ta’ala yang tahu akan amal baik kita.

*_HUKUM BERQURBAN_*

Hukum berqurban adalah
*SUNNAH MUAKKADAH*
bagi kita. Artinya kesunnahan yang sangat ditekankan kepada kita. Namun bagi Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam berqurban adalah wajib sebagai kekhususan beliau.

Kesunnahan terbagi dua:
1โƒฃ *Sunnah kifayah*
Yaitu bagi tiap-tiap muslim yang sudah baligh, berakal, memiliki kemampuan untuk berqurban dan hidup dalam satu keluarga. Artinya jika ada salah satu anggota keluarga berqurban, maka gugurlah tuntutan untuk berqurban dari tiap-tiap anggota keluarga itu. Namun tentunya yang mendapat pahala qurban adalah khusus bagi orang yang melakukannya.

2โƒฃ *Sunnah ‘ain*
Yaitu bagi mereka yang hidup seorang diri, tidak memiliki sanak saudara. Atau dengan kata lain sunnah ‘ain adalah sasaran kesunnahannya ditujukan pada individu atau personal semata.

Yang dimaksud ‘memiliki kemampuan’ di sini adalah orang yang memiliki harta yang cukup untuk dibuat qurban dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya serta orang yang ditanggung nafkahnya selama hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq.

Bahkan Imam As Syafi’i berkata, “Saya tidak memberi dispensasi / keringanan sedikitpun pada orang yang mampu berqurban untuk meninggalkannya”. Maksud dari perkataan tersebut adalah makruh bagi orang yang mampu berqurban, tapi tidak mau melaksanakannya.

Meskipun hukum qurban adalah sunnah, namun suatu ketika bisa saja berubah menjadi wajib, yaitu jika dinadzarkan *(QURBAN NADZAR)*.

Maka konsekuensinya jika sudah menjadi qurban wajib dia dan keluarga yang dia tanggung nafkahnya tidak boleh mengambil atau memakan sedikitpun dari daging qurban tersebut.

Semoga kita bisa memperbaiki ibadah kita kpd Alloh Ta’ala, dan terus istiqomah bertutur kata, berfikir dan berbuat baik dan benar.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
*Robbana Taqobbal Minna*
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

www.sejenakpagi.info
๐Ÿ˜Šโค๐Ÿ‘