• +62-8123070905
  • bagus.suminar@gmail.com

Daily Archive March 18, 2021

Masih Tentang Bulan Sya’ban

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sejenak Pagi
Masih Tentang Bulan Sya’ban

Bulan ini disebut Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam sebagai:

Bulan yang dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, Bulan diangkatnya amal padanya kepada Robbul ‘alamin

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan tentang amal di waktu lalainya manusia,

“Ibadah di waktu-waktu lalai mempunyai keutamaan di bandingkan waktu yang lain.”

Jadi, Bulan Sya’ban ini mempunyai dua keistimewaan: bulan dilalaikan dan bulan diangkatnya amal. Pada kedua hal tersebut, beramal mempunyai nilai baik. Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam juga menyampaikan bahwa beliau ingin dicatat seorang yang berpuasa saat pengangkatan amal.

Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha berkata,

“Dan aku tidak melihat Rasululloh shallallahu alaihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan kecuali Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau puasa paling banyak dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu banyaknya hari-hari di Sya’ban yang dipuasai Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam dengan puasa-puasa sunnah, hingga dalam riwayat lain Aisyah mengatakan bahwa Nabi puasa satu bulan penuh.

Yang dimaksud oleh Aisyah adalah puasa hampir satu bulan penuh.

Jika tidak, jangan lewatkan puasa pertengahan Sya’ban (Al Ayyam Al Bidh)

Dari Imron bin Hushain radhiallahu anhu, bahwasanya Rasululloh shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya atau kepada yang lainnya: Apakah kamu puasa Surar Sya’ban? Dia menjawab: Tidak. Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika kamu berbuka, maka puasalah dua hari.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kata Surar/Sarar Sya’ban, para ulama berbeda pendapat apakah awal, pertengahan atau akhir bulan tersebut. An Nawawi menjelaskan hal ini dalam Al Minhaj.

Pendapat yang kuat adalah: pertengahan dan akhir bulan.

Jika maksudnya adalah pertengahan, maka yang dimaksud adalah puasa al ayyam al bidh. Dan jika yang dimaksud adalah akhir bulan, maka yang dimaksud adalah bagi mereka yang biasa berpuasa sunnah, diizinkan untuk puasa di akhir Sya’ban.

Sya’ban adalah bulan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk kita isi dengan banyak berpuasa. Jika tidak mampu berpuasa banyak, maka puasalah pada pertengahannya (13, 14, 15) Sya’ban.

Bersihkan kemusyrikan & saling memaafkan.

Dari Abu Musa, dari Rasululloh shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Alloh memeriksa (hamba) di malam pertengahan Sya’ban. Dia mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang yang musyrik atau bertikai.”
(HR. Ibnu Majah)

Ini satu-satunya hadits yang bisa dijadikan landasan untuk keutamaan malam nisfu Sya’ban.

Alloh Ta’ala menurunkan ampunan bagi seluruh orang hamba beriman. Tidak ada amal tertentu yang diperintahkan untuk dilakukan pada malam tersebut. Ini adalah ampunan yang diturunkan Alloh Ta’ala begitu saja, sebagai bukti Maha Pengampunnya Alloh Ta’ala.

Hanya saja, kita harus membersihkan dari dua hal: Kemusyrikan dan Pertengkaran. Jika salah satunya atau keduanya masih ada dalam diri kita, maka ampunan itu akan terlewatkan.

Jadi, budaya meminta maaf menjelang Ramadhan, lebih bagus jika dilaksanakan sebelum pertengahan Sya’ban.

Batas akhir membayar hutang Ramadhan yang lalu.

Bagi yang mempunyai hutang di Ramadhan sebelumnya, diberi keluangan waktu untuk membayarnya hingga bulan Sya’ban tahun berikutnya.

Hal ini dilakukan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha,
Aisyah radhiallahu anha berkata,
“Saya mempunyai hutang puasa Ramadhan. Saya tidak mampu menggantinya kecuali pada Bulan Sya’ban dikarenakan kesibukanku (melayani) Rasululloh shallallahu alaihi wasallam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, semboyan orang beriman di Bulan Sya’ban: Berlatih dan Memperbanyak amal.

Jika dua bulan; Rajab dan Sya’ban kita siapkan sebaik mungkin, maka Ramadhan akan menjadi sangat istimewa.

Karena Ramadhan adalah gabungan antara meninggalkan dosa dan hal-hal yang membatalkan Ramadhan dan melakukan amal sebanyak-banyaknya.

Rajab mengajarkan separo yang pertama, sementara Sya’ban mengajarkan separo yang kedua.

Kesimpulan: Apa yang harus dilakukan bagi kita dan keluarga kita untuk menyiapkan diri menghadapi Ramadhan?

Persiapkan ilmu!

Sya’ban: Bulan melatih diri untuk beramal sebanyak mungkin.

Banyak berpuasa di Bulan Sya’ban. Jika tidak mampu berpuasa banyak di Sya’ban, maka puasalah pada al ayyam al bidh (13, 14, 15) Bulan Sya’ban.

Sebelum pertengahan Sya’ban pastikan kemusyrikan telah bersih.

Sebelum pertengahan Sya’ban pastikan telah terlerai pertengkaran.

Semoga pandemi covid ini segera berlalu.
Semoga kita semua sekeluarga sehat dzohir bathin. Dalam lindungan dan Rahmat Alloh Subhanahu wata’ala. Menjadi hamba yang Bahagia, membahagiakan orang lain dan senantiasa bersyukur.
Semoga Alloh Ta’ala mengampuni dosa dan kesalahan kita.
Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.

www.sejenakpagi.info
@sejenakpagi.official
😊❤👍