• +62-8123070905
  • bagus.suminar@gmail.com

Gerhana Matahari

Gerhana Matahari

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Sejenak Pagi:
*Gerhana Matahari*

Insyaa Alloh hari ini kamis 26 Desember akan terjadi gerhana Matahari.
Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wassalam hanya sekali melaksanakan shalat gerhana matahari. Itu terjadi pada 27 Januari 632, awal Dzuqaidah 10 H, empat bulan sebelum Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wassalam wafat.

Saat itu terjadi gerhana matahari cincin yang melintasi bagian selatan Jazirah Arab. Di Madinah hanya terjadi gerhana matahari sebagian dengan kegelapan 77 persen.

Bayangkan suasana pagi itu di Madinah. Putra Rasululloh yang bernama Ibrahim wafat. Beberapa saat setelah matahari terbit mulailah terjadi gerhana.

Di langit timur terlihat matahari tidak sempurna bulatnya. Bagian atasnya tampak menghitam yang makin lama hampir menghilangkan seluruh bundaran matahari.

Orang-orang ketakutan dan mengaitkan gerhana matahari itu dengan wafatnya putra Rasululloh. Namun, Rasul membantahnya. Gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Alloh.

Di dalam hadits Abu Burdah dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu, dikisahkan peristiwa gerhana di Madinah:

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam langsung berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan sholat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya.

Setelah itu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Gerhana ini adalah tanda-tanda dari Alloh, bukan disebabkan karena kematian atau kelahiran seseorang. Namun gerhana ini terjadi supaya Alloh menakuti hamba-hamba-Nya.

Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka takutlah dan bersegeralah berdzikir kepada Alloh, berdoa, dan memohon ampunan-Nya.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Rasulloh Shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan tauhid, tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan mitos. Gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Bukan pula karena matahari dimakan raksasa atau makhluk yang tak masuk akal.

Gerhana adalah tanda-tanda kekuasaan Alloh Ta’ala. Alloh-lah yang mencipkan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Setelah ilmu astronomi bertembang, diketahui bahwa gerhana matahari adalah bagian dari keteraturan sistem matahari-bulan-bumi. Bulan mengitari bumi, sementara bumi bersama bulan mengitari matahari.

Pada saat bulan tepat berada di antara matahari dan bumi, terjadilah gerhana. Peredaran bulan mengitari bumi seperti itu dengan perubahan ketampakan bentuk bulan digunakan untuk perhitungan kalender. Hal itu diungkapkan di dalam Al-Quran surat Yunus:5.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Alloh tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”
(QS Yunus:5).

Ayat itu juga mengisyaratkan, matahari dan bulan berbeda secara fisis. Matahari disebut dhiya’, bersinar. Sedangkan bulan disebut nuuran, bersinar.

Sains – astronomi mengungkapkan, matahari sesungguhnya sama dengan bintang-bintang lain. Ukurannya jauh lebih besar dari bumi, sekitar 1,3 juta kali besar bumi. Wujudnya berupa gas panas dengan reaksi nuklir di dalamnya.

Suhu di dalamnya puluhan juta derajat. Suhu permukaannya ribuan derajat. Dengan panas itu, matahari menghangatkan tata surya, termasuk bumi.

Bulan disebut bercahaya, lembut tidak menyilaukan dan tidak panas. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari.

Karena perubahan posisinya selama mengitari bumi (manzilah), bentuknya tampak berubah. Dari sabit di awal bulan, menjadi setengah bundaran, dan purnama, lalu kembali mengecil sampai menjadi sabit kembali.

Perubahan bentuk yang periodik digunakan untuk penentuan perhitungan bulan. Selama bumi mengitari matahari selama setahun, 12 kali bulan mengitari bumi.
Itu sebabnya satu tahun terdiri dari 12 bulan.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh”
(QS 9:36)

Dengan keteraturan peredaran bulan mengitari bumi diperoleh konsep waktu bulanan. Di alam perubahan bulanan itu selaras dengan kalender qamariyah atau lunar kalender, seperti kalender hijriyah.

Dengan keteraturan peredaran bumi mengitari matahari diperoleh konsep waktu tahunan. Konsep tahunan juga tampak dengan perubahan musim secara periodik. Dari awal musim panas sampai musim panas berikutnya adalah periode satu tahun.

Demikian juga dengan musim-musim yang lain. Perubahan musim selaras dengan kalender syamsiah atau solar calender, seperti kalender internasional yang berlaku saat ini.

Semoga kejadian gerhana matahari ini semakin mempertebal keimanan dan ketaqwaan kita.

Semoga kita terus bisa istiqomah dalam beribadah, senantiasa mensyukuri nikmat Alloh Ta’ala dan diberi kekuatan oleh Alloh Ta’ala utk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
*Robbana Taqobbal Minna*
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

www.sejenakpagi.info
😊❤👍

Hasbi Maula

Leave a Reply