• +62-8123070905
  • bagus.suminar@gmail.com

Ramodhon di Pelupuk Mata, Apa Persiapan Kita? Bag-1

Ramodhon di Pelupuk Mata, Apa Persiapan Kita? Bag-1

๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–
ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู
Sejenak Pagi:
*Ramodhon di Pelupuk Mata, Apa Persiapan Kita? Bag-1*

Tak terasa Romadhon akan kembali menyapa kaum Muslimin. Bulan mulia, bulan yang kehadirannya selalu dinantikan oleh orang-orang yang beriman dan kepergiannya selalu ditangisi oleh mereka. Bulan yang penuh dengan berbagai limpahan keutamaan dan keberkahan dari Alloh Ta’ala.

Romadhon, Alloh Ta’ala menganugerahi keutamaan padanya berupa turunnya kitab suci Alquran *(QS. Al Baqarah: 185)*, kitab yang mulia sebagai petunjuk (al-huda) kepada umat manusia, petunjuk kepada jalan yang lurus dan penyuluh ke jalan yang benar serta sebagai obat penawar (as-syifaโ€™) untuk kaum Muslimin.

Pada bulan Romadhon sajalah, pintu-pintu rahmat dibuka, pintu-pintu jahannam ditutup dan setan-setan dibelenggu. Selain itu, Alloh Ta’ala juga memberikan kemuliaan kepada Romadhon sebagai bulan yang terdapat satu malam di dalamnya malam seribu bulan (Lailatul Qadar).

Sementara itu, bagi orang-orang yang beriman, yang menunaikan pusa di bulan Romadhon dengan iman dan ikhlas maka Alloh Ta’ala akan memberikan pengampunan atas dosa-dosanya yang telah lampau.

Sayangnya, kedatangan bulan yang mulia ini kini dianggap biasa-biasa saja oleh umat Islam. Jelang Romadhon, yang diperbincangkan umat Islam bukan lagi program-program ibadah selama satu bulan, tetapi kebanyakan membicarakan naiknya harga kebutuhan pokok, bagaimana mereka akan membeli pakaian baru serta kebutuhan-kebutuhan fisik lainnya, termasuk memikirkan bagaimana mereka bisa mudik ke kampung halaman. Pun demikian dengan industri televisi yang memanfaatkan Romadhon sebagai momentum untuk menayangkan berbagai hiburan yang isinya jauh dari nuansa Romadhon. Tujuan mereka hanya satu, bagaimana menarik keuntungan materi sebesar-besarnya di bulan Romadhon.

Akhirnya, Romadhon yang mestinya menjadi bulan ibadah (syahrul ibadah) itu menjadi bulan yang sangat biasa yang tidak berbeda dengan 11 bulan lainnya. Tidak terasa istimewanya, tidak membekas pengaruhnya dan bahkan terasa hampa. Kondisi ini lebih diperparah dengan makin banyaknya orang-orang yang tidak memahami hukum-hukum syaraโ€™ di bulan Ramadhan. Banyak sekali mereka-mereka yang tidak memiliki uzhur apapun, makan dan minum seperti biasa di siang hari di bulan Romadhon.

Semoga kita senantiasa memperbaiki ibadah kita kpd Alloh Ta’ala, dan terus istiqomah bertutur kata, berfikir dan berbuat baik dan benar.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
*Robbana Taqobbal Minna*
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin

www.sejenakpagi.info
๐Ÿ˜Šโค๐Ÿ‘

Hasbi Maula

Leave a Reply