• +62-8123070905
  • bagus.suminar@gmail.com

Romadhon 20

Romadhon 20

💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sejenak Pagi:

Alhamdulillah masuk hari ke 20 bulan Romadhon.
Sudahkah kita berniat untuk tidak melewatkan kesempatan emas 10 hari terakhir di bulan Romdhon dengan menyampaikan seluruh pengharapan dan doa (bermunajat) dan ibadah sepenuh hati ber-i’tikaf di masjid. Sebelum ber’itikaf mari kita simak kembali beberapa penjelasan dari Kitab Bulughul Maram oleh Al Hafizh IBn Hajar Al Asqalany dan syarahnya oeleh Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfurry

🔹Diriwayatkan Abu Hurairah r.a. bahwa Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa melaksanakan Qiyam Romadhon dengan dasar keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Alloh, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu”
(HR. Muttafaq Alaihi)

Menurut bahasa, I’tikaaf ialah menahan, berdiam dan menetap. Sedangkan menurut syariat, I’tikaaf ialah berdiamnya seseorang di masjid dengan sifat tertentu. Sementara yang dimaksud dengan qiyam Romadhon ibadah pada malam harinya, baik shalat maupun membaca Al Qur’an. Qiyam Romadhon pada umumnya dipergunakan untuk menyebut shalat Tarawih. Sabdanya, karena iman yakni membenarkan janji Alloh Ta’ala berupa pahala, bermakna bahwa ia beribadah karena keimanannya. Yakni keimanannyalah yang mendorongnya untuk melakukan qiyam, bukan sesuatu yang lain. Ini mengisyaratkan keikhlasan niatnya dari kotoran riya. “ dan ihtisab” yakni mencari wajah Alloh Ta’ala dan pahalanya.

🔹Diriwayatkan dari Aisyah r.a. , ia berkata,” Apabila telah masuk hari kesepuluh, yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Romadhon, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam-malam tersebut serta membangunkan istri-istrinya”
(HR. Muttafaq Alaihi)

Sabdanya mengencangkan kain sarungnya, ini adalah kinayah tentang tekun beribadah, mencurahkan waktu untuknya dan bersungguh-sungguh di dalamya. Ada yang berpendapat, yang dimaksud dengannya ialah menjauhi wanita untuk menyibukkan diri dengan peribadatan. “ Menghidupkan malamnya” yakni menghidupkan seluruh malam dengan begadang untuk melakukan shalat dan selainnya, atau menghidupkan sebagian besarnya” dan membangunkan keluarganya” yakni membangunkan mereka dari tidur untuk beribadah dan shalat.

🔹Diriwayatkan dari Aisyah r.a. , ia berkata,” Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melakukan I’tikaf, beliau mengerjakan shalat Shubuh, baru kemudian masuk ke tempat I’tikafnya”
(HR. Muttafaq Alaihi)

Pernyataannya, “shalat Shubuh” yakni pada pagi 21 Ramadhan. Maksudnya beliau terfokus dan menyepi di dalamnya setekah shalat shubuh. Bukan berarti bahwa itu dimulainya waktu I’tikaf. Bahkan waktu I’tikaf dimulai sebelum maghrib pada Malam ke 21 dalam keadan beri’tikaf lagi berdiam di masjid secara umum. Ketika setelah selesai shalat Subuh beliau menyendiri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam An Nawawi. Takwil ini harus dilakukan untuk mengkompromikan antara hadits ini dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Romadhon, sebagaimana hadits ini.

🔹Diriwayatkan dari Aisyah r.a. , ia berkata,” Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepalanya ke kamarku dan aku menyisir rambutnya. Dan jika sedang I’tikaf beliau tidak masuk rumah kecuali jika ada keperluan.”
(HR. Muttafaq Alaihi)

Maksudnya menggunakan sisir di rambut kepala, maksudnya aku menyisirnya dan meminyakinya. Di dalamnya terdapat dalil bahwa mengeluarkan sebagian tubuh orang yang beri’tikaf di Masjid itu tidak membatalkan I’tikaf , dan hadits ini juga terdapat dalil tentang bolehnya laki-laki menjadikan istri sebagai pelayannya. “kecuali jika ada keperluan” seperti kencing, buang air besar , muntah, mandi jinabat, buang ingus dan selainnya yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

🔹Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa r.a. bahwa beberapa orang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermimpi melihat malam Lailatul qadr pada tujuh hari terakhir. Maka Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menurut dugaanku, kalian bermimpi pada tujuh hari terakhir. Barang siapa ingin mencari malam tersebut, maka carilah pada tujuh malam terakhir”
(HR. Muttafaq Alaihi)

🔹Diriwayatkan dari Aisyah r.a. , ia berkata : Aku katakan wahai Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa yang harus aku ucapkan jika aku mengetahui malam lailatul Qadr itu? Beliau menjawab,” Ucapkanlah Allahuma innaka afuwwun tuhibbul Afwa fa’fu annii (Ya Alloh sensungguhnya Engkau Maha pemaaf, suka memaafkan maka maafkanlah aku )”
(HR. lima imam selain Abu Dawud).

Semoga kita senantiasa memperbaiki ibadah kita kpd Alloh Ta’ala, dan terus istiqomah bertutur kata, berfikir dan berbuat baik dan benar.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.


Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), Aamiin

www.sejenakpagi.info
😊❤👍

pagi100

Leave a Reply